Luas wilayah Kabupaten Sukoharjo secara keseluruhan adalah 444,666 km2, terbagi menjadi 12 wilayah kecamatan, berbatasan langsung dengan Kota Surakarta dan Kabupaten Karanganyar di sebelah utara, Provinsi DIY dan Kabupaten Wonogiri di sebelah selatan, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten di sebelah barat dan Kabupaten Karanganyar di sebelah timur.
Terdapat Sungai Bengawan Solo yang membelah wilayah Kabupaten Sukoharjo menjadi dua bagian, yaitu: bagian utara dengan kondisi secara umum berupa dataran rendah dan bergelombang, sedangkan bagian selatan berupa pegunungan dan dataran tinggi.
Sektor industri menjadi andalan Kabupaten Sukoharjo. Terdapat dua industri besar di Kabupaten Sukoharjo, yaitu PT. Sritex yang merupakan perusahaan tekstil nasional yang sudah terkenal di luar negeri, yang menjadi salah satu kebanggaan Sukoharjo. Ada lagi industri besar lainnya, yaitu PT Konimex Pharmaceutical Laboratories, pabrik farmasi terutama untuk jenis produk obat bebas yang produknya sudah menembus pasaran luar seperti Kamboja, Vietnam dan Birma. Terdapat juga industri kecil daerah ini, berbagai produk kerajinan rakyat terus dikembangkan misalnya kaca grapir yang merupakan industri kerajinan khas daerah Sukoharjo yang berkembang di Kecamatan Kertasura, Grogol dan Baki. Ada juga industri rotan yang berkembang di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak.
Sektor perdagangan menjadi pilihan menarik masyarakat untuk mengatasi dampak krisis ekonomi setelah produksi pertanian terus menurun akibat hasil panen yang kurang baik. Sesunngguhnya Sukoharjo unggul di lapangan usaha pertanian, namun Sukoharjo yang terus berkembang ke arah industrialisasi memang tidak bisa di cegah. Akibatnya banyak lahan persawahan penduduk yang harus berubah untuk kepentingan industri dan perumahan.

Tugu Mbok Jamu
Sektor industri menjadi andalan Kabupaten Sukoharjo. Terdapat dua industri besar di Kabupaten Sukoharjo, yaitu PT. Sritex yang merupakan perusahaan tekstil nasional yang sudah terkenal di luar negeri, yang menjadi salah satu kebanggaan Sukoharjo. Ada lagi industri besar lainnya, yaitu PT Konimex Pharmaceutical Laboratories, pabrik farmasi terutama untuk jenis produk obat bebas yang produknya sudah menembus pasaran luar seperti Kamboja, Vietnam dan Birma. Terdapat juga industri kecil daerah ini, berbagai produk kerajinan rakyat terus dikembangkan misalnya kaca grapir yang merupakan industri kerajinan khas daerah Sukoharjo yang berkembang di Kecamatan Kertasura, Grogol dan Baki. Ada juga industri rotan yang berkembang di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak.
Sektor perdagangan menjadi pilihan menarik masyarakat untuk mengatasi dampak krisis ekonomi setelah produksi pertanian terus menurun akibat hasil panen yang kurang baik. Sesunngguhnya Sukoharjo unggul di lapangan usaha pertanian, namun Sukoharjo yang terus berkembang ke arah industrialisasi memang tidak bisa di cegah. Akibatnya banyak lahan persawahan penduduk yang harus berubah untuk kepentingan industri dan perumahan.
MENGUAK POTENSI WISATA DI SUKOHARJO
Dalam dua tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo mempercantik Kawasan Solo Baru sebagai kawasan wisata. Di kawasan ini, Solo Baru menjadi salah satu magnet bagi para pelancong. Selain memiliki wisata kuliner, ada wisata air Pandawa yang elok. Namun, dinamika pariwisata lokal di Sukoharjo masih cenderung statis, padahal ada banyak aset wisata yang khas, yaitu wisata sejarah dan ritual. Sayangnya, publikasi mengenai hal itu belum luas.
Terdapat Pesanggrahan Langenharja yang berada dekat dengan Kawasan Solo Baru. Tempat itu merupakan peninggalan Keraton Surakarta yang dulunya untuk beristirahat keluarga raja. Bangunan unik itu pernah menjadi lokasi pembuatan sinetron. Pesanggrahan ini memiliki pemandian air hangat yang airnya dipercaya berkhasiat menyembuhkan penyakit kulit.
Ada pula sisa Keraton Kartasura yang berada di bagian utara-barat dari wilayah Kabupaten Sukoharjo, yang merupakan bekas keraton yang luluh lantak dalam peristiwa "Geger Pecinan". Peninggalan ini adalah situs penting dalam sejarah Kota Solo. Situs peninggalan Keraton Kartasura lainnya adalah Gunung Kunci dan Segarayasa (sekarang Lapangan Gunung Kunci), yang pada masanya berfungsi sebagai tempat hiburan raja (taman sari atau kebon rojo). Terdapat pula petilasan Pajang di Makamhaji yang menyimpan cerita tokoh legenda Joko Tingkir. Pendiri petilasan itu pada 1993 adalah Paguyuban Amarsudi Petilasan Kasultanan Karaton Pajang.
Sukoharjo juga mempunyai obyek wisata ziarah yang menarik, misalnya, Makam Ki Ageng Balak, Ki Ageng Sutawijaya, Ki Ageng Purwoto Sidik, BRAy. Sedah Mirah, Banyubiru, Majasto dan Taruwangsa, yang tersebar di beberapa tempat. Masyarakat sekitar meyakini orang yang dimakamkan di situ adalah tokoh-tokoh pada era Kerajaan Mataram Islam.
Bagi masyarakat Jawa khususnya, mereka tidak dapat meninggalkan aktivitas ritual karena merupakan bagian dari tradisi/budaya. Kedatangan mereka dianggap sebagai sowan leluhur, bahkan dianggap sebagai ibadah. Pengunjung komplek pemakaman itu selalu ramai setiap bulan Suro, Ruwah dan malam Jumat Kliwon.
Memiliki segudang obyek wisata seperti itu, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo seharusnya mampu memberdayakannya. Pasalnya, di wilayah lain seperti Kudus dan Gresik, wisata sejarah dan ziarah menjadi primadona dan penopang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain itu, obyek wisata berfungsi sebagai penguatan citra daerah.
Semua keberadaan potensi itu, tanpa pengelolaan secara maksimal, profesional dan menjalankan strategi pemasaran yang jitu, maka pariwisata Sukoharjo akan tertidur semakin lama. Tertidur dan terlelap. Artinya, Sukoharjo tertinggal dari daerah lain yang gencar menjual aneka potensi daerahnya. Jika hal itu terjadi, Sukoharjo bakal rugi.
Perlu diingat, bahwa promosi pariwisata yang andal mampu mendorong peningkatan lapangan kerja yang memadai. Pariwisata turut menggenjot kegiatan ekonomi produktif mulai dari kerajinan, makanan, transportasi, akomodasi dan lain sebagainya
Dalam dua tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo mempercantik Kawasan Solo Baru sebagai kawasan wisata. Di kawasan ini, Solo Baru menjadi salah satu magnet bagi para pelancong. Selain memiliki wisata kuliner, ada wisata air Pandawa yang elok. Namun, dinamika pariwisata lokal di Sukoharjo masih cenderung statis, padahal ada banyak aset wisata yang khas, yaitu wisata sejarah dan ritual. Sayangnya, publikasi mengenai hal itu belum luas.
Terdapat Pesanggrahan Langenharja yang berada dekat dengan Kawasan Solo Baru. Tempat itu merupakan peninggalan Keraton Surakarta yang dulunya untuk beristirahat keluarga raja. Bangunan unik itu pernah menjadi lokasi pembuatan sinetron. Pesanggrahan ini memiliki pemandian air hangat yang airnya dipercaya berkhasiat menyembuhkan penyakit kulit.

Tugu Adipura
Sukoharjo juga mempunyai obyek wisata ziarah yang menarik, misalnya, Makam Ki Ageng Balak, Ki Ageng Sutawijaya, Ki Ageng Purwoto Sidik, BRAy. Sedah Mirah, Banyubiru, Majasto dan Taruwangsa, yang tersebar di beberapa tempat. Masyarakat sekitar meyakini orang yang dimakamkan di situ adalah tokoh-tokoh pada era Kerajaan Mataram Islam.
Bagi masyarakat Jawa khususnya, mereka tidak dapat meninggalkan aktivitas ritual karena merupakan bagian dari tradisi/budaya. Kedatangan mereka dianggap sebagai sowan leluhur, bahkan dianggap sebagai ibadah. Pengunjung komplek pemakaman itu selalu ramai setiap bulan Suro, Ruwah dan malam Jumat Kliwon.
Memiliki segudang obyek wisata seperti itu, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo seharusnya mampu memberdayakannya. Pasalnya, di wilayah lain seperti Kudus dan Gresik, wisata sejarah dan ziarah menjadi primadona dan penopang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain itu, obyek wisata berfungsi sebagai penguatan citra daerah.
Semua keberadaan potensi itu, tanpa pengelolaan secara maksimal, profesional dan menjalankan strategi pemasaran yang jitu, maka pariwisata Sukoharjo akan tertidur semakin lama. Tertidur dan terlelap. Artinya, Sukoharjo tertinggal dari daerah lain yang gencar menjual aneka potensi daerahnya. Jika hal itu terjadi, Sukoharjo bakal rugi.
Perlu diingat, bahwa promosi pariwisata yang andal mampu mendorong peningkatan lapangan kerja yang memadai. Pariwisata turut menggenjot kegiatan ekonomi produktif mulai dari kerajinan, makanan, transportasi, akomodasi dan lain sebagainya


Tidak ada komentar:
Posting Komentar